twitter


Kalau semuanya gagal turunkan standar anda terlebih dahulu

Jika anda bisa menetapkan dan menggapai tujuan harianmu, nyakinlah bahwa anda juga bisa menetapkan dan menggapai tujuan besarmu.

Jika anda tidak belajar mencintai diri sendiri terlebih dahulu anda tidak bisa mencintai orang lain! Perlakukan orang lain sesuai dengan pearlakuan yang ingin anda dapatkan dari orang lain.

Semua belum berakhir hingga benar benar berakhir !

Hidup saya berubah jika saya berubah !

Kalo kita tidak dapat bertindak seperti yang kita harapkan kita harus bertindak seperti yang kita bisa

Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain tapi bandingkanlah dirimu dengan dirimu sendiri

Setiap saat hidup memberikan sebuah pelajaran agar kita mau belajar!! namun banyak dari kita tidak mengerti apa yang diinginkan hidup itu sendiri

Jangan membuat masalah kalo tidak mau mendapat masalah

pada saat anda meraih bintang, anda mungkin tidak berhasil mendapat satupun, tetapi anda tidak akan pulang dengan tangan hampa


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Media adalah benda yang dapat dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca ataupun dibicarakan beserta instrument yang dapat dipergunakan dengan baik dalam kegiatan belajar mengajar sehingga dapat mempengaruhi efektifitas program instruksional. Sedangkan metode adalah cara yang dianggap efisien yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan suatu mata pelajaran tertentu kepada siswa, agar tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya dalam proses kegiatan pembelajaran dapat tercapai dengan efektif. Di dalam proses belajar mengajar diperlukan suatu metode dan media yang sesuai dengan situasi dan kondisi. Oleh karena itu, kita penulis ingin membahas metode dan media pembelajaran IPS.
B.     Rumusan Masalah
1.         Apa pengertian media ?
2.         Apa fungsi media ?
3.         Sebutkan macam-macam media dalam pengajaran IPS !
4.         Apa saja teknik memilih media dalam pengajaran IPS ?
5.         Apa pengertian metode mengajar ?
6.         Apa saja kriteria menentukan metode pembelajaran ?
7.         Sebutkan macam-macam metode/pendekatan pembelajaran IPS !


JAKARTA - Pendaftaran menjadi guru di daerah terpencil melalui program Sarjana Mendidik di daerah Tertinggal, Terluar, dan Terdepan (SM-3T) sudah dibuka sejak beberapa hari lalu. Namun, mungkin masih banyak calon guru yang merasa bingung dengan program besutan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) itu.

Oleh karena itu, Himpunan Mahasiswa program studi (prodi) Sains FMIPA Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengadakan seminar regional tentang SM-3T dan PPG. Sebanyak 180 peserta dari berbagai angkatan dan jurusan pun mendapat informasi lengkap serta sharing pengalaman SM-3T maupun PPG.

Dalam kesempatan tersebut, panitia mendatangkan salah seorang peserta SM-3T dan penerima beasiswa PPG angkatan pertama, Rizki Sugiarto. Dia pun berbagi cerita tentang pengalaman mengajar di sebuah sekolah terpencil di Sumba Timur seorang diri.


Ada tiga sosok orang tua yang kita kenal; orang yang melahirkan dan mengasuh kita (Wali/Orangtua) orang yang mendidik dan mengajarkan ilmu pada kita (Guru), dan orangtua dari pasangan hidup kita (Mertua).
Semua orang tua ingin masa depan anaknya memiliki masa depan yang cerah, semua orang tua tidak menginginkan putra-putrinya tidak berpendidikan, dan orang tua dalam keadaan apapun berusaha semampu mungkin untuk menyekolahkan putra-putrinya setinggi-tingginya, agar kelak kehidupannya lebih baik daripada dirinya. Harapan ini harus di tangkap oleh dunia pendidikan salah satunya adalah sekolah, sebagai sebuah amanah yang mulia.


Kemendikbud telah menyiapkan Kurikulum 2013 yang diklaim sebagai penyempurnaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diluncurkan pada tahun 2006 lalu. Benarkah demikian  ? Hemat saya KTSP secara konsep jauh lebih baik, tapi dibiarkan gagal oleh Kemendikbud sendiri dengan tidak menyiapkan guru yang cakap dalam jumlah yang memadai.
Kurikulum 2013 dinyatakan sebagai respons terhadap perkembangan mutakhir sekaligus hasil sigi internasional seperti PISA, TIMSS dan PIRLS yang menempatkan warga muda Indonesia di papan bawah komunitas global di bidang matematika, sains, dan ketrampilan membaca.Hemat saya, wacana Kurikulum 2013 berpotensi  menyembunyikan dua akar masalah pokok pendidikan Indonesia saat ini, yaitu tata kelola pendidikan yang buruk (poor education governance) dan guru yang tidak kompeten. Otak-atik kurikulum jauh lebih gampang dan enak daripada memperbaiki tata kelola pendidikan dan menyiapkan guru yang kompeten.


 “Betapa hebat angka nilai sehingga dianggap bisa menggambarkan kualitas siswa dengan menafikan potensi lain”
BEBERAPA waktu lalu sering kita saksikan pada layar televisi iklan propaganda KPK tentang seseorang yang sewaktu kecil suka bohong akhirnya masuk penjara karena korupsi. Secara sekuel dikisahkan, ada tokoh bernama Adi yang suka bohong semasa kecil, suka menyontek ketika ujian sekolah, berselingkuh waktu pacaran, menyogok polisi ketika terkena razia, akhirnya masuk penjara KPK karena korupsi.


Pernahkah kita menimbang kebutuhan teknologi informasi negara Indonesia? Mari kita sedikit bermain dengan angka. Misalkan, komputer yang digunakan lembaga pemerintah di pusat dan daerah berjumlah 500.000 komputer. Jika harga sistem operasi Microsoft Windows adalah 100 dollar AS per komputer, belanja negara yang dikeluarkan untuk OS saja mencapai 50 juta dollar AS atau lebih dari Rp 50 miliar. Sejumlah itu pula penghematan minimum yang bisa dilakukan oleh Pemerintah Indonesia jika beralih ke sistem operasi (OS) terbuka seperti GNU/Linux.
Dengan menghitung pengguna komputer pribadi dan kalangan swasta yang berjumlah lebih dari 60 juta, jika kita bisa membangun nilai paket aplikasi, ekosistem teknologi informasi (TI), serta lapangan kerja yang bisa disediakan, maka penghematan bisa mencapai ribuan kali lipat.


PERINGATAN Hari Pendidikan Nasional dan kunjungan calon presiden Joko Widodo ke Museum Ki Hadjar Dewantara seperti napak tilas untuk menemukan kembali api semangat pendidikan yang hilang. Api semangat yang oleh konsensus nasional dipersonifikasikan dalam figur Ki Hadjar sehingga hari kelahirannya (2 Mei) dijadikan Hari Pendidikan Nasional. Seluruh jejak langkah perjuangan Ki Hadjar mencerminkan empatinya kepada wong cilik, penghormatannya terhadap martabat dan kesederajatan manusia, serta kegigihannya memperjuangkan kedaulatan, kemandirian, dan kepribadian bangsa. Tak salah jika Bung Karno menyebutnya sebagai salah satu ”guru” terpentingnya.


PEKAN lalu seorang pelajar SMA dari Surabaya menulis sebuah surat terbuka untuk M Nuh, menteri pendidikan dan kebudayaan. Surat itu berisi kritik yang tajam, dengan logika yang baik, tetapi dalam bahasa yang santun. Substansi kritik surat tersebut sudah cukup banyak dibahas dan tidak akan saya ulang di sini. Yang saya soroti dalam tulisan ini ialah jawaban M Nuh ketika ditanya wartawan tentang surat tersebut. Alih-alih memberi apresiasi, ia justru tidak percaya bahwa seorang pelajar SMA bisa menulis surat seperti itu.
Respons M Nuh tentu mengecewakan, tetapi tidak mengejutkan. Ketidakpercayaan Pak Menteri sudah bisa diduga karena konsisten dengan arah kebijakan mendasar yang dipilih kementeriannya. Yang pertama ialah penguatan fungsi ujian nasional sebagai penentu kelulusan siswa SMP dan SMA. Yang kedua ialah penggantian kurikulum tingkat satuan pendidikan dengan kurikulum 2013. Kedua kebijakan itu pada dasarnya mencerminkan ketidakpercayaan akut terhadap kapasitas profesional guru sebagai ujung tombak pendidikan. Bila terhadap guru saja M Nuh sangsi, apalagi pada siswa-siswanya?


Dunia pendidikan di Indonesia kembali berduka. Setelah terkuak tragedi kekerasan seksual terhadap murid taman kanak-kanak Jakarta International School (JIS), wajah pendidikan kembali ternodai tindak kekerasan fisik di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta, yang menewaskan seorang taruna junior, Dimas Dikita Handoko (19), karena dipukuli dan dianiaya tujuh taruna seniornya.
Kasus kekerasan fisik di STIP berlanjut lagi dengan meninggalnya Renggo Khadafi, siswa kelas V SD yang tewas dipukuli kakak kelasnya. Kasus kekerasan yang berujung kematian ini amat memprihatinkan sebab terjadi di lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu dan jauh dari tindak kekerasan. Ironisnya, lembaga pendidikan yang seharusnya menggodok para pemimpin bangsa di masa datang justru menjadi tempat pembantaian manusia. Pertanyaannya, calon pemimpin seperti apa yang bisa diharapkan menetas dari lembaga pendidikan yang mengedepankan otot ketimbang otak itu?


Hari-hari terakhir ini dunia pendidikan kita kerap diwarnai kekerasan dan mengarah pada aksi kriminal. Fungsi pendidikan untuk menyebarkan nilai-nilai perdamaian tercoreng aksi individu yang lebih menggunakan cara-cara kekerasan dibanding dialog. Tawuran antarpelajar, penyiksaan rekan sekolah, pembunuhan, bahkan penyimpangan seks, beritanya menyebar ke relung hati. Ini merefleksikan ulang sejauh mana pendidikan berperan dalam meminimalkan tindakan-tindakan biadab tersebut. Apa yang terjadi dalam dunia pendidikan kita sebenarnya merupakan cermin dari yang terjadi dalam masyarakat sesungguhnya. Saat kekerasan menjadi satu-satunya solusi, ketika negara melalui aparatusnya sudah kehilangan kepercayaan diri dan tidak lagi dihormati warga, rakyat pun akan memutuskan tindakannya sendiri.


            SEMOGA Pak Nuh masih ingat perbincangan ringan yang terjadi pada Selasa, 15 Desember 2009, bertempat di Plaza Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Saat itu Pak Nuh mengundang 10 penulis artikel pendidikan produktif sepanjang 2008-2009. Sebagai salah satu dari 10 orang yang diundang, saya cukup terkesan dan mengapresiasi tradisi yang coba dibangun Mendikbud. Dalam kata sambutan yang singkat dan sederhana, Mendikbud sangat menghargai masukan dan kritik yang disampaikan para penulis tentang kerja-kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
            Sebagai salah satu spektrum yang membawa warna tersendiri dalam evaluasi kinerja Mendikbud, kritik dan masukan para penulis diharapkan Pak Nuh akan memberikan tambahan energi pemerintah dalam menjalankan tugas dan kewenangannya. Sebagai mitra, para penulis diibaratkan Pak Nuh memiliki banyak warna ide dan gagasan, dengan kumpulan dari warna-warna tersebut akan mempercepat proses pertumbuhan warna putih yang diharapkan muncul sebagai simbol terangnya dunia pendidikan di Tanah Air.


KEKELIRUAN paling mendasar dalam pembangunan pendidikan selama sejarah Indonesia modern adalah mempersempit pendidikan hanya sekadar persekolahan belaka. Anggaran pendidikan yang semakin besar (tahun 2014 mencapai Rp 80 T) dialokasikan untuk memperbesar sistem persekolahan. Pendidikan nonformal, apalagi pendidikan informal dalam keluarga di rumah, dinomorduakan karena tidak terukur, tidak memiliki standar (lihat istilah teknokratik standar pelayanan minimal), dan oleh karena itu dinilai tidak bermutu. Anak yang tidak pernah bersekolah (seperti anak rimba) langsung dianggap tidak terdidik dan kampungan.
Persekolahan mengubah belajar sebagai proses-proses yang alami menjadi komoditas layanan pendidikan. Begitu belajar mensyaratkan persekolahan, pendidikan langsung menjadi barang langka by definition. Ivan Illich telah menunjukkan dengan gamblang pada akhir 1960-an bahwa massive schooling system ala Amerika Serikat sang adidaya waktu itu telah gagal mewujudkan pendidikan universal bagi warganya sendiri. Yang terjadi dari massive schooling system itu adalah massive miseducation. Hal ini berlaku juga di Indonesia memasuki dekade kedua abad ke-21 ini, kira-kira 50 tahun kemudian. Saya berkeyakinan, memperhatikan banyak fakta mutakhir pendidikan Indonesia, masalah pendidikan kita saat ini adalah too much schooling, not the lack of it.


Setiap musim ujian nasional alias UN, saya selalu teringat pada Muhammad Abrary Pulungan (14), siswa dari SD Negeri 06 Petang, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Tiga tahun lalu, ia pernah menjadi pusat pergunjingan lantaran melaporkan kecurangan UN di sekolahnya. Naas, bukannya mendapat apresiasi, ia justru dihujani kecaman dari berbagai pihak terkait. Seperti orang Jawa bilang, nulung malah kepentung.
Pada tahun yang sama, kasus serupa dialami oleh Alif (14), siswa dari SD Negeri 02 Gadel, Tandes, Surabaya, Jawa Timur. Seperti dikabarkan media, ia diminta gurunya memberikan jawaban soal UN kepada temannya yang tidak bisa. Pasca ujian, ia tidak tahan dan melaporkan perintah guru itu kepada orangtuanya. Dampaknya, Alif dan keluarganya diusir warga karena tidak suka dengan kejujuran tersebut. Mereka dituding sok jujur oleh guru, orangtua siswa lain, dan masyarakat sekitar tempat tinggalnya.


PERILAKU otentik siswa dalam belajar dan guru dalam mengajar perlu terus diupayakan. Siswa idealnya bersemangat untuk memahami, bahkan memecahkan, berbagai masalah yang muncul di sekitarnya. Intinya, mereka belajar memahami dan memikirkan lingkungannya agar siap saat memasuki kehidupan, bukan hanya saat menghadapi ujian. Kalaupun ada ujian, itu hanya sebagian kecil pengalaman belajar yang perlu dilewati. Ujian bukan segala-galanya, hanya bagian kecil dari proses besar yang namanya belajar. Hakikat belajar yang sesungguhnya adalah berpikir dalam arti seluas-luasnya.
Belajar mengondisikan siswa berpikir, memahami fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang terkait dengan berbagai disiplin ilmu untuk memecahkan masalah. Itulah esensi belajar yang sesungguhnya perlu diciptakan guru. Guru sebagai manajer kelas idealnya menjadi penyedia fasilitas, penyiap kondisi, pendamping siswa, mitra siswa, pencerah, dan sumber inspirasi bagi siswa dalam belajar. Guru idealnya mengondisikan siswa belajar benar, bukan hanya menjelaskan, memindahkan pengetahuan, serta mendampingi siswa berlatih mengerjakan soal dan membahasnya.


Ketika mutu pendidikan di negara ini ambruk dari tahun sebelumnya, maka guru disalahkan, bahkan sebagian orang dan lembaga sosial mengatakan guru tiada becus bekerja, namun ketika mutu pendidikan naik, malah Menteri Pendidikan yang mendapat sanjungan dan penghargaan, saat itu seolah-olah guru tidak pernah ada dan berjasa.
Di sisi lain guru senantiasa dituntut untuk mengajar semaksimal mungkin, sistem 24 jam per minggu juga diberlakukan, katanya demi memenuhi kewajiban guru sebagai pengajar, bila tidak mencukupi 24 jam, maka guru yang memiliki tunjangan, tunjangan tidak bisa diambil, padahal melihat kenyataannya seorang guru itu bergelut dengan berbagai macam perilaku anak didik.


Aku
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan akan akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

TAK SEPADAN
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka
Februari 1943


SAJAK ORANG MISKIN
Oleh: Ws Rendra
Orang-orang miskin di jalan,
yang tinggal di dalam selokan,
yang kalah di dalam pergulatan,
yang diledek oleh impian,
janganlah mereka ditinggalkan.
Angin membawa bau baju mereka.
Rambut mereka melekat di bulan purnama.
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
mengandung buah jalan raya.
Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kamu abaikan.
Bila kamu remehkan mereka,
di jalan kamu akan diburu bayangan.
Tidurmu akan penuh igauan,
dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.
Jangan kamu bilang negara ini kaya
karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
Jangan kamu bilang dirimu kaya
bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.
Orang-orang miskin di jalan
masuk ke dalam tidur malammu.
Perempuan-perempuan bunga raya
menyuapi putra-putramu.
Tangan-tangan kotor dari jalanan
meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu biarkan.
Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan
yang mencegat ideologimu.



DENGAN PUISI AKU
(Taufiq ismail)
Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbaur cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Napas jaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya



PGSD? Sering kali itulah yang ada dalam benak teman-teman kalau bicara tentang jurusan PGSD. Kenapa? Karena mindset teman-teman sudah terpatri bahwa PGSD nantinya hanya akan menjadi guru SD. Guru SD yang tiap harinya berkutat dengan anak-anak usia 7-12 tahun yang sangat badung. Guru SD yang gajinya sedikit. Guru SD yang harus berurusan dengan semua tetek bengek sekolah yang menyebalkan. Dimata sebagian besar rakyat Indonesia, guru SD adalah profesi yang tidak bergengsi.
Namun semua mindset itu mulai goyah ketika ada isu dari pemerintah yang menyebutkan bahwa kesejahteraan guru SD akan sangat diperhatikan dimasa mendatang. Mulai-lah para orangtua berbondong-bondong menyuruh (baca: menyarankan) anaknya untuk mengambil jurusan ini. PGSD menjadi jurusan yang popular di masyarakat. Puluhan ribu fresh graduate dari SMA menyerbu jurusan ini. Sayangnya, yang tau hal-hal semacam ini juga hanya para pendahulu kita yang profesinya bersenggolan dengan dunia pendidikan. Dimasyarakat biasa, tetap saja profesi guru SD adalah suatu hal yang kurang membanggakan.
Lebih lanjut, jurusan yang nantinya mencetak pendidik awal generasi penerus bangsa ini tetap saja ‘terpinggirkan’. Kenapa begitu? Karena dimata mahasiswa dari jurusan lain, mahasiswa PGSD adalah mahasiswa yang kurang modis. Bahkan, pada beberapa universitas yang memisahkan kampus PGSD-nya dari kampus utama gap social ini semakin terasa. Setiap kali menjejakkan kaki di kampus utama, langkah mahasiswa PGSD diiringi tatapan aneh dari teman-teman diluar jurusan PGSD. Tentu tidak semua seperti itu. Ada juga yang menghargai perbedaan. Tapi untuk mahasiswa gaul diluar sana, PGSD bukan termasuk mahasiswa yang bisa disebut keren.


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pentingnya pendidikan bagi pembinaan sumber daya manusia sangat diharapkan oleh setiap orang. Karena melalui pendidikan akan tercipta seorang manusia yang cakap, terampil, dan berilmu sebagai bekal hidup nantinya. Serta mampu hidup mandiri di tengah pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini. Oleh karena itu, kualitas pendidikan semestinya ditingkatkan agar tujuan pendidikan nasional dapat terwujud, seperti yang dijelaskan dalam undang-undang No.20 Tahun 2003 pasal 3 yaitu :
Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dalam membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa pada Allah swt, berakhlak mulia, cakap, kreatif, serta bertanggungjawab. (Depdiknas, 2003:3)
Dengan demikian kesadaran akan pentingnya pendidikan terutama bagi anak usia sekolah terus ditingkatkan, baik pada jenjang sekolah dasar, menengah maupun perguruan tinggi, melalui inovasi pembelajaran yang diyakini sesuai dengan karakteristik siswa maupun lingkungan sekolahnya.
Sehubungan dengan hal di atas, menurut pendapat penulis dapat disimpulkan bahwa penerapan PAIKEM dalam pembelajaran musik ensambel di sekolah dasar sangat relevan digunakan, karena seperti yang dijelaskan oleh Akhmad (2008:22) “PAIKEM merupakan suatu pembelajaran yang menekankan keaktifan siswa secara optimal, untuk mencapai tujuan pembelajaran dalam suasana yang tidak membosankan siswa”. Ini dilakukan agar apa yang diharapkan oleh kurikulum tercapai semaksimal mungkin. 

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah Bagaimana Penerapan PAIKEM dalam proses pembelajaran?

C. Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Mendeskripsikan langkah penerapan PAIKEM dalam proses pembelajaran di sekolah dasar.
2. Melihat efektifitas PAIKEM dalam proses pembelajaran di sekolah dasar.


BAB 1
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Selama pendidikan masih ada, maka selama itu pula masalah-masalah tentang pendidikan akan selalu muncul dan orang pun tak akan henti-hentinya untuk terus membicarakan dan memperdebatkan tentang keberadaannya, mulai dari hal-hal yang bersifat fundamental-filsafiah sampai dengan hal–hal yang sifatnya teknis-operasional. Sebagian besar pembicaraan tentang pendidikan terutama tertuju pada bagaimana upaya untuk menemukan cara yang terbaik guna mencapai pendidikan yang bermutu dalam rangka menciptakan sumber daya manusia yang handal, baik dalam bidang akademis, sosio-personal, maupun vokasional.
Proses pembelajaran adalah sebuah upaya bersama antara dosen dan mahasiswa untuk berbagi dan mengolah informasi dengan tujuan agar pengetahuan yang terbentuk ter-internalisasi dalam diri peserta pembelajaran dan menjadi landasan belajar secara mandiri dan berkelanjutan. Maka kriteria keberhasilan sebuah proses pembelajaran adalah munculnya kemampuan belajar berkelanjutan secara mandiri.
Sebuah proses pembelajaran yang baik, paling tidak harus melibatkan 3 aspek, yaitu : aspek psikomotorik, aspek kognitif dan aspek afektif.
B.Permasalahan
Lesson Study merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakan secara kolaboratif dan berkelanjutan oleh sekelompok guru.Oleh karena itu,saya mengangkat permasalahan bagaimana menerapkan lesson study dalam proses belajar mengajar.


Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi manusia, bahkan bagi manusia yang hidup di dunia ini. Semua manusia berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan tidak memandang status apapun dalam dunia pendidikan, meskipun mereka orang miskin, orang kaya, hidup di desa, di kota, semua berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Karena pendidikan merupakan modal utama atau pondasi mereka mendapatkan pengetahuan, yang tadinya manusia yang tidak tahu apa-apa menjadi tahu, dan bisa merubah hidup manusia menjadi lebih baik lagi.
Bahkan pemerintah sekarang menyediakan pendidikan gratis selama 9 tahun, untuk warga masyarakat indonesia, dari mulai SD sampai SMP dengan gratis, bahkan sekarang pemerintah rencananya akan menyediakan pendidikan gratis selama 12 tahun artinya Sampai lulus SMA atau sederajat. Namun pada kenyataannya masih banyak masyarakat yang tidak mau sama sekali menyekolahkan anaknya, sehingga anak-anak mereka ketinggalan pengetahuan oleh orang lain.


JAKARTA – Pada 2015, Pendidikan Profesi Guru (PPG) akan mulai dirintis pemerintah. Kebijakan sudah dibuat dan pemerintah menargetkan dalam 10 tahun setelah penerapannya bisa menghasilkan guru profesional yang berkelanjutan. Menanggapi itu Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang baru terpilih Djaali mengatakan bahwa hal tersebut masih sulit diwujudkan.
Dia melihat ada sejumlah kendala yang akan dihadapi pemerintah mengimplementasi PPG. Antara lain, fakta bahwa masih ada 50 persen guru SD yang masih bergelar SPG (setingkat SMA) dan belum meraih gelar S1. Padahal, syarat untuk mengikuti PPG adalah minimal D4 dan atau S1.’’Jumlahnya signifi kan. Jadi tidak mungkin secara serentak para guru meninggalkan profesi mereka selama beberapa tahun untuk mendapatkan gelar sarjana.


Jakarta - Usai diuji coba selama tiga tahun, sejak 2011 silam, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bakal membakukan Program Pendidikan Profesi Guru Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (PPG-SM3T).

Rencananya program itu bakal mulai diberlakukan pada 2015 dan menjadi salah satu prasyarat bagi para sarjana pendidikan yang berhasrat untuk menjadi guru pegawai negeri sipil (PNS) pada 2016.

“Program PPG-SM3T yang sudah kita rintis selama tiga tahun akan kita bakukan. Pada 2016 nanti kita harapkan guru pemerintah ialah lulusan program tersebut,“ ujar Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud, Supriadi Rustad, di Jakarta, Sabtu (14/12).

Jika nanti PPG-SM3T sudah dibakukan, lanjut, Supriadi, semua guru, khususnya yang berminat menjadi PNS, wajib mengikuti program ini.


JAKARTA - Gelar Sarjana Pendidikan (SPd.) bukanlah tiket emas seseorang untuk menjadi guru. Lulusan Fakultas Keguruan pun wajib mengikuti pendidikan profesi guru (PPG) sebelum ditahbiskan sebagai tenaga pengajar. 
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) M Nuh menjelaskan, SPd. adalah gelar akademik, bukan gelar profesi. Hal ini sama dengan gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked.) yang belum menunjukkan kualifikasi seseorang sebagai dokter. 
"Begitu juga halnya dengan sarjana farmasi, tidak identik dengan apoteker. Karena itu, seorang lulusan bergelar S.Pd baru dapat disebut sebagai guru setelah mereka mengikuti PPG," papar Nuh, seperti disitat dari laman Kemendikbud, Rabu (12/2/2014). 
Nuh mengimbuhkan, PPG bukan bermaksud menghapus gelar sarjana pendidikan yang melekat pada seseorang. PPG merupakan tahapan pendidikan yang harus diikuti seseorang yang ingin menjadi guru. 
"Dengan berprofesi sebagai guru maka mereka akan mendapatkan tunjangan profesi," imbuhnya. (rfa)

Sumber : http://kampus.okezone.com/


‘Bagaimana saya menjadi seorang guru?’ Pertanyaan cukup sederhana tapi jawabannya tidak sesederhana itu. Jika Anda bertanya pertanyaan ini maka itu berarti Anda benar-benar mempertimbangkan mengajar sebagai pilihan karir. Banyak kali kita karir yang dipilih bagi kita oleh orang tua kita atau dalam kasus lain oleh keadaan yang tidak kami dalam kendali kita. Oleh karena itu, menganalisis situasi tertentu dan menentukan mengapa Anda benar-benar ingin menjadi seorang guru.

Di bawah ini tercantum beberapa umum langkah-langkah yang dapat Anda ambil untuk menjawab pertanyaan, ‘Bagaimana saya menjadi seorang guru?’


1. Orang-orang sama indahnya seperti matahari terbenam jika aku bisa membiarkan mereka jadi diri sendiri. Aku tidak mencoba mengatur matahari terbenam; aku melihatnya penuh kekaguman, dan aku paling menyukai diriku ketika aku mengagumi terbentangnya sebuah kehidupan. (Carl Rogers)
2. Anak-anak yang di dalam kelas kita mutlak lebih penting daripada pelajaran yang kita ajarkan kepada mereka. (Meladee McCarty)
3. Diberkatilah satu jiwa manusia yang penyayang dan tulus terhadap jiwa manusia yang lain. (Gorge Eliot)
4. Salah satu tanda pendidik yang hebat adalah kemampuan memimpin murid-murid menjelajahi tempat-tempat baru yang bahkan belum pernah didatangi pendidiknya sendiri (Thomas Groome)
5. Aku telah mencapai sebuah kesimpulan yang menakutkan bahwa aku adalah unsur penentu di dalam kelas. Pendekatan pribadikulah yang menciptakan iklimnya. Suasana hatikulah yang membuat cuacanya. Sebagai seorang guru aku memiliki kekuatan yang sangat besar untuk membuat hidup seseorang menderita atau gembira. Aku bisa menjadi alat penyiksa atau alat pemberi ilham. Aku bisa mempermalukan atau bercanada, melukai atau menyembuhkan. Dalam semua situasi, reaksikulah yang menentukan apakah sebuah krisis akan memuncak atau mereda dan apakah seseorang akan diperlakukan sebagai manusia atau direndahkan. (Haim Ginott)
6. Seorang ibu pernah meminta Gandhi menyuruh putrinya berhenti makan gula. Gandhi menyuruh anak itu datang lagi dua minggu kemudian. Dua minggu kemudian sang ibu membawa putranya ke depan Gandhi. Gandhi berkata kepada anak itu, “Berhentilah makan gula.” Dengan keheranan perempuan itu menjawab, “Terima kasih, tapi saya harus bertanya mengapa Anda tidak memberitahunya dua minggu yang lalu.” Gandhi menjawab, “Dua minggu lalu saya masih makan gula.” (???)
7. Kadang-kadang cahaya kita mati, tetapi dinyalakan lagi oleh seorang manusia lain. Kita semua berutang terima kasih yang paling dalam kepada mereka yang telah menyalakan lagi cahaya ini. (Albert Schweitzer)
8. Arah yang diberikan pendidikan untuk mengawali hidup seseorang akan menentukan masa depannya. (Plato)
9. Mengajar adalah pilihan profesi nomor satu karena gurulah yang mengajari siapa pun cara menjadi orang penting (???)
10. Aku menyentuh masa depan. Aku mengajar. (Christa McAuliffe)


BAB I
PENDAHULUAN
A.                Latar Belakang
Pendidikan pada dasarnya adalah proses komunikasi yang didalamnya mengandung transformasi pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan-keterampilan, di dalam dan di luar sekolah yang berlangsung sepanjang hayat, dari generasi ke generasi (Dwi Siswoyo, 2008: 25). Dari pengertian di atas dapat diartikan bahwa hampir dari seluruh kegiatan manusia yang bersifat positif dapat dianggap bahwa mereka telah melakukan proses pendidikan. Tujuan pendidikan secara luas antara lain adalah untuk meningkatkan kecerdasan, membentuk manusia yang berkualitas, terampil, mandiri, inovatif, dan dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Oleh karena itu, pendidikan sangat diperlukan oleh manusia untuk dapat melangsungkan kehidupan sebagai makhluk individu, sosial dan beragama.
            Dalam upaya memajukan pendidikan di Indonesia UNESCO mengeluarkan empat pilar yang dapat menopang pendidikan yang ada di Indonesia ini. Keempat pilar tersebut adalah learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together. Dimana Untuk mengimplementasikan “learning to know” (belajar untuk mengetahui), Guru harus mampu menempatkan dirinya sebagai fasilitator. Di samping itu guru dituntut untuk dapat berperan ganda sebagai kawan berdialog bagi siswanya dalam rangka mengembangkan penguasaan pengetahuan siswa.
            Sekolah sebagai wadah masyarakat belajar seyogjanya memfasilitasi siswanya untuk mengaktualisasikan keterampilan yang dimiliki, serta bakat dan minatnya agar “Learning to do” (belajar untuk melakukan sesuatu) dapat terealisasi. Walau sesungguhnya bakat dan minat anak dipengaruhi faktor keturunan namun tumbuh dan berkembangnya bakat dan minat juga bergantung pada lingkungan. Seperti kita ketahui bersama bahwa keterampilan merupakan sarana untuk menopang kehidupan seseorang bahkan keterampilan lebih dominan daripada penguasaan pengetahuan semata.
Pilar ketiga yang dicanangkan Unesco adalah “learning to be” (belajar untuk menjadi seseorang). Hal ini erat sekali kaitannya dengan bakat, minat, perkembangan fisik, kejiwaan, tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungannya. Misal : bagi siswa yang agresif, akan menemukan jati dirinya bila diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi. Dan sebaliknya bagi siswa yang pasif, peran guru sebagai kompas penunjuk arah sekaligus menjadi fasilitator sangat diperlukan untuk menumbuhkembangkan potensi diri siswa secara utuh dan maksimal.
Terjadinya proses “learning to live together” (belajar untuk menjalani kehidupan bersama), pada pilar keempat ini, kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima perlu dikembangkan disekolah.


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan pada dasarnya merupakan suatu proses pengembangan potensi individu. Melalui pendidikan, potensi yang dimiliki oleh individu akan diubah menjadi kompetensi. Kompetensi mencerminkan kemampuan dan kecakapan individu dalam melakukan suatu tugas atau pekerjaan. Tugas pendidik atau guru dalam hal ini adalah memfasilitasi anak didik sebagai individu untuk dapat mengembangkan potensi yang dimiliki menjadi kompetensi sesuai dengan cita-citanya.
Program pendidikan dan pembelajaran seperti yang berlangsung saat ini oleh karenanya harus lebih diarahkan atau lebih berorientasi kepada individu peserta didik. Kenyataan menunjukkan bahwa program pendidikan yang berlangsung saat ini lebih banyak dilaksanakan dengan cara membuat generalisasi terhadap potensi dan kemampuan siswa. Hal ini disebabkan karena kurangnya pemahaman pendidik tentang tingkat kecerdasan setiap peserta didik.
Muncul keluhan dari pendidik atau Guru bahwa mereka merasa bahwa menjelaskan sejelas jelasnya tetapi ada saja anak didik yang tidak dapat memahami pelajaran dengan baik. Setiap kali orang belajar pasti melibatkan pikirannya dan didalam pikiran tersebut ada kecerdasan. Salah satu temuan yang sangat bermanfaat adalah bahwa setiap individu memiliki tidak hanya memiliki satu kecerdasan tetapi lebih yaitu disebut juga multiple intelligences atau kecerdasan ganda.
Hal inilah yang melatarbelakangi kami untuk menulis makalah yang berjudul “KECERDASAN GANDA ( MULTIPLE INTELLIGENCES )”.
B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah :
1.      Apa yang dimaksud dengan Kecerdasan Ganda ( Multiple Intelligences ) ?
2.      Apa saja jenis – jenis Kecerdasan Ganda ( Multiple Intelligences ) ?
3.      Bagaimana cara meningkatkan kecerdasan ?
C.    Tujuan
Adapun tujuan penuisan makalah ini adalah :
1.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Kecerdasan Ganda ( Multiple Intelligences ).
2.      Untuk mengetahui apa saja jenis – jenis Kecerdasan Ganda ( Multiple Intelligences).
3.      Untuk mengetahui bagaimana cara meningkatkan kecerdasan.
D.    Manfaat
Dari makalah ini diharapkan dapat meberikan pengetahuan tentang kecerdasan ganda ( multiple intelligences ) dan cara meningkatkan kecerdasan.


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Periodesasi perkembangan adalah pembagian seluruh masa perkembangan seseorang ke dalam periode-periode tertentu, dengan hal itu maka kami ingin membahas dan ingin memaparkan tentang hal-hal yang terjadi dalam periodesasi pada perkemabangan baik secara Biologis, Didaktis, serta Psikologis. Yang mana hal itu masih belum di ketahui oleh banyak orang di karenakan kurangnya pengetahuan serta pemahaman mengenai hal tersebut. Diharapkan dengan disajikannya makalah ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan terhadap periodesasi perkembangan.
B. Rumusan Masalah
1.    Periodesasi Biologis
2.    Periodesasi Sosial
3.    Periodesasi Psikologis
4.    Periodesasi Didaktis / Peadagogis
5.    Aspek-aspek perkembngan
C. Tujuan Penulisan
1.    Untuk mengetahui Periodesasi Biologis
2.    Untuk mengetahui Periodesasi Sosial
3.    Untuk mengetahui Periodesasi Psikologis
4.    Untuk mengetahui  Periodesasi Didaktis / Peadegogis
5.    Untuk mengetahui Aspek-aspek perkembngan