twitter


Matematika

Perkalian Bilangan Bulat
Nada: Potong Bebek Angsa
Positif positif, menjadi positif
Positif negatif, menjadi negatif 
Negatif positif, menjadi negatif
Negatif negatif, jadi positif
Semuanya itu, perubahan tanda
dalam perkalian, bilangan bulat

Bangun Datar  dan Bangun Ruang
Nada: Helly 
(versi  1)
Aku punya bangun datar
Ada banyak macamnya
Bangun itu dua dimensi
Ada banyak bentuknya
Ini.. persegi
Yang ini.. persegi panjang
Ini.. jajar genjang
Ini.. segitiga
Yang ini.. layang-layang
Ini.. belah ketupat
Ini.. elips
Yang ini.. lingkaran
Semua bangun datar


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
          Dalam perkembangan setiap individu sejak lahir hingga akhir hayatnya  pasti akan mengalami proses belajar dan akan menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya baik secara langsung maupun tidak langsung, Dalam proses ini perubahan tidak terjadi  sekaligus tetapi terjadi  secara bertahap.
            Perkembangan individu ditunjukkan bagaimana perkembangan anak-anak, remaja dan dewasa tumbuh dan berkembang secara fisik, psikis dari fase ke fase seperti dalam hal pertumbuhan fisik, kognitif, afektif, sosial, psikomotor, serta moral.
            Fase perkembangan individu juga tidak terlepas dari proses pertumbuhan individu itu sendiri. Perkembangan pribadi individu meliputi beberapa tahap atau periodisasi perkembangan, antara lain perkembangan individu secara didaktis.


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )
Satuan Pendidikan       : SD Negeri 36 Pontianak Selatan
Kelas / Semester           : II / I
Mata Pelajaran             : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Jumlah Pertemuan       : 1 x Pertemuan

I.       Standar Kompetensi
1. Memahami peristiwa penting dalam keluarga secara kronologis.
II.    Kompetensi Dasar
1.1 Memelihara dokumen dan koleksi benda berharga miliknya.
III. Indikator
1.        Menjelaskan pengertian koleksi.
2.        Menyebutkan contoh koleksi benda berharga.
IV. Tujuan Pembelajaran
1.        Dengan tanya jawab bersama guru, siswa dapat menjelaskan pengertian koleksi.
2.        Setelah mengamati media koleksi benda berharga dan tanya jawab, siswa dapat menyebutkan 3 contoh koleksi benda berharga.
V.  Materi Ajar
KOLEKSI BENDA BERHARGA
A.      Pengertian Koleksi
     Kalau kalian suka kepada suatu benda, tentu akan mengumpulkannya. Benda tersebut sengaja kamu kumpulkan. Benda koleksi tidak harus mahal. Asalkan, kamu menyukai benda itu. Jadi, koleksi adalah benda yang sengaja dikumpulkan.


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )
Satuan Pendidikan       : SD Negeri 36 Pontianak Selatan
Kelas / Semester           : IV / 2
Mata Pelajaran             : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Jumlah Pertemuan       : 1 x Pertemuan

I.       Standar Kompetensi
2. Mengenal sumber daya alam, kegiatan ekonomi dan kemajuan teknologi di lingkungan kebupaten/kota dan provinsi.
II.    Kompetensi Dasar
2.2. Mengenal pentingnya koperasi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
III. Indikator
1.        Menjelaskan pengertian koperasi.
2.        Menjelaskan makna lambang koperasi.
3.        Menjelaskan tujuan koperasi.
4.        Menjelaskan manfaat koperasi.
IV. Tujuan Pembelajaran
1.        Dengan tanya jawab bersama guru, siswa dapat menjelaskan pengertian koperasi.
2.        Setelah mengamati gambar lambang koperasi dan tanya jawab, siswa dapat menjelaskan 4 makna lambang koperasi.
3.        Dengan diskusi kelompok, siswa dapat menjelaskan 2 tujuan koperasi.
4.        Dengan diskusi kelompok, siswa dapat menjelaskan 2 manfaat koperasi.
V.  Materi Ajar
KOPERASI
A.      Pengertian Koperasi
         Koperasi berasal dari kata ”kooperasi” yang berarti bekerja bersama-sama. Jadi, koperasi adalah kelompok atau perkumpulan orang atau badan yang bersatu dalam cita-cita atas dasar kekeluargaan dan gotong-royong untuk mewujudkan kemakmuran bersama.


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Paradigma baru pendidikan Indonesia saat ini, menghendaki dilakukan adanya inovasi yang terintegrasi dan kesinambungan. Salah satu wujudnya adalah inovasi yang dilakukan pendidikan dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Untuk mengetahui bahwa materi pelajaran yang telah disampaikan oleh guru dapat dikatakan berhasil atau tidak yaitu dengan memberi evaluasi kepada siswa. Dengan evaluasi maka dapat diketahui sejauh mana siswa dapat menerima mata pelajaran yang telah disampaikan oleh guru. Disini penulis akan membahas tentang penilaian formatif dan penilaian sumatif.
B.       Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian Evaluasi Formatif dan Evaluasi Sumatif ?
2.      Apa manfaat Evaluasi Formatif dan Evaluasi Sumatif ?
3.      Apa berbedaan penilaian Evaluasi Formatif dan Evaluasi Sumatif ?
4.      Apa perbandingan antara Tes Formatif dan Tes Sumatif ? 


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Penilaian pembelajaran PKn SD merupakan komponen pembelajaran yang sangat penting. Penilaian memiliki tujuan untuk mengukur keberhasilan pembelajaran, sehingga bermanfaat bagi siswa, yaitu untuk mengukur sejauh mana siswa mampu menyerap materi yang telah disampaikan. Sedangkan bagi guru, penilaian bermanfaat untuk umpan balik dari hasil pembelajaran yang teleh disampaikan dan untuk laporan kepeda orang tua siswa dan guru sendiri di setiap akhir semester, yang dituangkan dalam buku raport.
Saat sekarang dunia pendidikan di Indonesia sangat membutuhkan model penilaian dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran PKn karena penilaian merupakan indikator keberhasilan guru dalam proses pembelajaran. Penilaian mengacu pada proses menetapkan nilai pada suatu kegiatan, keputusan, proses, orang dan objek. Penilaian tidak selalu dilakukan melalui proses pengukuran tetapi dapat dilakukan dengan cara membandingkannya dengan kriteria-kriteria yang berlaku tanpa perlu melakukan pengukuran terlebih dahulu.


I love you dad, I love you so much :*



Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abuu Daawuud, dijelaskan bahwa ada seseorang bertanya pada Rasululloh mengenai orang tua yang telah meninggal "Ya Rasululloh, apakah masih ada kewajiban bagi saya untuk berbuat baik kepada orang tua saya yang telah wafat?" Kemudian Rasululloh menjawab "Ya ada. Berdoa memohon ampun untuk kedua nya, melaksanakan pesan-pesan nya dan menghubungkan tali kekeluargaan atau silaturahim kepada mereka yang tidak terjadi hubungan kekeluargaan tanpa keduanya, serta berbuat baik atau menghormati teman-temannya." Kasih anak sepanjang jalan, kasih orang tua sepanjang masa. Maka sudah sepatut nya kita berbuat baik kepada keduanya sepanjang hayat. Sudah 2 bulan lebih ya Pak. Kalo dirasa berat, semua udah takdir dari Sang Maha Pemilik Takdir. Rindu yang teramat sangat dengan Alm. Bapak Sarijo. Semoga selalu istiqomah dan tak putus-putus doa untukmu.. Allohumma Aamiin. :)


Ayah

Dimana….akan ku cari
Aku menangis seorang diri
Hatiku ingin slalu bertemu
Untukmu aku bernyanyi
Untuk ayah tercinta, aku ingin bernyanyi
Walau air mata di pipiku….
Ayah dengarkanlah, aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi…..


“Dibalik Hujan selalu ada Pelangi Kecil yang tak sabar untuk keluar dari persembunyiannya. Seperti Aku yang selalu ingin menulis dibalik keraguan dan ketakutan untuk merahasiakannya pada dunia”.
Entah harus memulai dari mana tulisan yang kubuat ini, karena pada saat memulai menuliskan kata “ayah” seluruh memori tentang aku dengan ayah selama 20 tahun berkecambuk dipikiranku dan hampir tak sanggup ku bendung air mata.
Yah... inilah bulan suci Ramadhan pertamaku tanpa ayah tercinta. Saat bulan suci Ramadhan seperti ini, rasa haruku seperti berlomba – lomba dan berloncatan dari tubuh. Hah... Ya Allah.. aku rindu Ramadhan ku bersama ayah, dimana semuanya begitu indah dan spesial sekali.
Tahun pertama puasa tanpa ayah agak menyayatkan hati. Ada yang hilang, sahur pun terasa kurang. Ya, kurang satu orang. Sungguh sayu berbuka hanya di temani ibu dan abang tanpa ayah di sisi. Terbayang-bayang lagi ayah duduk disitu sewaktu berbuka puasa dulu. Semua itu masih segar dalam fikiranku... 


A.    TUNAGRAHITA
Anak berkebutuhan khusus yang mengalami kelainan mental-emosional, yaitu anak tunagrahita,tunadaksa dan tunalaras.
1.      Karakteristik Tunagrahita
Karakteristik anak tunagrahita, yang lebih spesifik berdasarkan berat ringannya kelainan dapat dikemukakan sebagai berikut:
A.              Mampudidik
Mampudidik merupakan istilah pendidikan yang digunakan untuk mengelompokan tunagrahita ringan. Mampudidik memiliki kapasitas intelegensi antara 50-70 pada skala Binet maupun Weschler. Anak mampudidik kemampuan maksimalnya setara dengan anak usia 12 tahun atau kelas 6 sekolah dasar, apabila mendapat pelayanan dan bimbingan belajar yang sesuai maka anak mampudidik dapat lulus Sekolah dasar. Tunagrahita mampudidik umumnya tidak disertai dengan kelainan fisik baik sensori maupun motoris, sehingga kesan lahiriah anak mampudidik tidak berbeda dengan anak normal sebaya, bahkan sering anak mampudidik dikenal dengan terbelakang mental 6 jam, hal ini dikarenakan anak terlihat terbelakang mental sewaktu mengiuti pelajaran akademik di sekolah saja, yang mana jam sekolah adalah 6 jam setiap hari.


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Semua orang tua pada umumnya sangat mengharapkan agar anaknya mempunyai pertumbuhan dan perkembangan seperti anak normal pada umumnya, tetapi tidak semua orang tua memperoleh hasil seperti yang diharapkan. Ada beberapa orang tua yang “tidak beruntung”, anaknya tidak mengalami pertumbuhan dan perkembangan secara normal seperti pada anak normal lainnya. Misalnya anak memiliki kelainan mental emosional.
Anak berkelainan mental emosional memiliki klasifikasi diantaranya adalah tunagrahita dan tunalaras. Tunagrahita dan tunalaras termasuk kedalam kategori anak berkebutuhan khusus yang memerlukan penanganan-penanganan khusus untuk mengatasinya. Maka disini kita sebagai guru maupun orang tua yang telah mengetahui bahwa anaknya termasuk anak yang berkelainan mental emosional perlu memberikan layanan pendidikan dan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan anak, sehingga anak mendapat perlakuan yang tepat.
B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah
1.      Apakah bentuk layanan pendidikan yang dapat diberikan kepada anak tunagrahita dan tunalaras ?
2.      Apa sajakah fasilitas yang dapat diberikan kepada anak tunagrahita?



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Tujuan dari belajar bukan semata-mata berorientasi pada penguasaan materi dengan menghapal fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi atau materi pelajaran. Lebih jauh daripada itu, orientasi sesungguhnya dari proses belajar adalah memberikan pengalaman untuk jangka panjang. Dengan konsep ini, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.
Proses pembelajaran harus bisa menciptakan suatu proses belajar yang dapat mengeksplorasi wawasan pengetahuan siswa dan dapat mengembangkan makna sehingga akan memberikan kesan yang mendalam terhadap apa yang telah dipelajarinya. Alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan salah satunya adalah dengan menggunakan model pembelajaran belajar melalui pengalaman atau biasa disebut experiential learning.
Model pembelajaran experiential learning merupakan model pembelajaran yang diharapkan dapat menciptakan proses belajar yang lebih bermakna, dimana siswa mengalami apa yang mereka pelajari. Melalui model  ini, siswa belajar tidak hanya belajar tentang konsep materi belaka, hal ini dikarenakan siswa dilibatkan secara langsung dalam proses pembelajaran untuk dijadikan sebagai suatu pengalaman. Hasil dari proses pembelajaran experiential learning tidak hanya menekankan pada aspek kognitif saja, juga tidak seperti teori behavior yang menghilangkan peran pengalaman subjektif dalam proses belajar. Pengetahuan yang tercipta dari model ini merupakan perpaduan antara memahami dan mentransformasi pengalaman.


BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Dalam era global, teknologi telah menyentuh segala aspek pendidikan sehingga, informasi lebih mudah diperloleh, hendaknya siswa aktif berpartisipasi sedemikian sehingga melibatkan intelektual dan emosional siswa didalam proses belajar. Keaktifan disini berarti keaktifan mental walaupun untuk maksud ini sedapat mungkin dipersyaratkan keterlibatan langsung keaktifan fisik dan tidak nya berfokus pada satu sumber informasi yaitu guru yang hanya mengandalakan satu sumber komunikasi. Seringnya rasa malu siswa yang muncul untuk melakukan komunikasi dengan guru, membuat kondisi kelas yang tidak aktif sehingga berpulang pada rendahnya prestasi belajar siswa. Maka perlu adanya usaha untuk menimbulkan keaktifan dengan mengadakan komunikasi yaitu guru dengan siswa dan siswa dengan rekannya. Salah satu pembelajaran yang ditawarkan adalah kooperatif tipe jigsaw.
2.      Rumusan Masalah
            Berangkat dari uraian singkat di atas, tim penyusun dapat merumuskan masalah yang menjadi pokok pembahasan dalam makalah ini yaitu:
1)      Pengertian Metode Jigsaw?
2)      Sejarah Metode Jigsaw?
3)      Langkah-langkah Metode Pembelajaran Jigsaw?
4)      Faktor Penghambat Metode Jigsaw
3.      Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah amengembangkan kerja tim, ketrampilan belajar kooperatif, dan menguasai pengetahuan secara mendalam.
4.      Metode Penulisan
Dalam pembuatan makalah ini, acuan penulisan yang kami gunakan adalah bersumber dari buku dan  internet serta blog yang berkaitan dengan materi yang ditugaskan oleh Bapak  Suriansyah. tentang “Jigsaw”.


Ada tujuh langkah strategis yang dilakukan oleh guru agar ia dapat mendesain proses pembelajaran berjiwa pembentukan karakter melalui kegiatan membaca.
Persiapan awal: pemilihan bacaan
Guru perlu mempersiapkan pengajaran dengan memilih bacaan yang cocok, yaitu yang megandung persoalan moral. Bacaan ini bisa diambil dari kisah satra maupun bacaan lain yang sesuai, seperti berita.
Langkah 1
Menemukan persoalan dan intensitas moral
Guru perlu bertanya, apakah didalam teks tersebut terdapat persoalan moral dan bagaimana tingkat intensitas moralnya? Yang dimaksudkan dengan persoalan moral disini adalah apakah peristiwa dan kisah dalam bacaan tersebut terkait dengan keberadaan hidup umat manusia. Disini, persoalan moral lebih mengacu pada apakah martabat manusia dijunjung tinggi, dihargai dan dilindungi.
Sedangkan yang dimaksud dengan intensitas moral adalah seberapa besar dampak sebuah peristiwa tersebut bagi keberlangsungan hidup umat manusia.


Beberapa pendidik percaya bahwa sastra dapat menjadi sarana yang ampuh bagi pembentukan karakter. Weaver (1994), misalnya, mengatakan bahwa “karakter yang terdapat dalam sastra memiliki kekuatan potensial yang hampir sama dengan sosok manusia sungguhan dalam memengaruhi pembaca melalui pengalaman seorang pembaca ketika membaca.
Guru Bahasa Indonesia dan Sastra memiliki peranan penting dalam rangka pembentukan karakter peserta didik. Hal ini terjadi bukan karena sekedar kerena kemampuan berbahasa merupakan prasyarat sebuah pembelajaran yang berhasil, melainkan karena melalui bahasalah seorang individu mampu memahami, mengakuisisi dan pada akhirnya mengeksekusi pemahaman itu menjadi sebuah keyakinan ketika keyakinan itu tampil dalam wujud perilaku yang konsisten, berlandaskan motivasi yang benar dan diperjuangkan secara terus menerus.
Karena guru Bahasa Indonesia dan Sastra ini begitu penting, maka para guru perlu memahami dan merefleksikan bagaimana cara mereka mengajar para peserta didik agar mereka dapat mempelajari sastra secara efektif dan bermakna. Ketika membaca, seorang anak mempergunakan skema mental yang dimilikinya untuk memahami dan mengerti teks yang dibacanya. Semakin familiar teks itu, semakin mudah ia memahami, semakin tidak familiar, semakin sulit ia memahami isi teks tersebut. Proses pengolahan informasi ini juga menentukan kadar keberhasilan seorang anak dalam memecahkan persoalan maupun dalam membuat evaluasi atas sebuah teks.


1. Guru sebagai Komunikator.
Dilihat dari peran guru di dalam kelas, mereka berperan sebagai seorang komunikator, mengkomunikasikan materi pelajaran dalam bentuk verbal dan non-verbal. Pesan dalam bentuk verbal tersebut dirancang untuk disajikan dalam beberapa kali pertemuan, dan diterapkan sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, media, dan dalam alokasi waktu yang sesuai dengan beban dan muatan materi.
Komunikasi materi pelajaran tidak terbatas di dalam kelas semata tetapi dirancang untuk luar kelas, berupa tugas yang terkontrol dan terukur, baik materi teoritis dan praktis, sehingga materi pelajaran yang disajikan lebih komunikatif. Di dalam kelas guru menjelaskan, siswa bertanya, menyimak, sebaliknya guru mendapatkan informasi dari para siswanya, dan menjawab pertanyaan siswa serta mencari solusi bersama-sama, kedua belah pihak (komunikator-komunikan) aktif, dan peran yang lebih dominan terletak pada siswa atau siswa yang lebih aktif. Pada akhir dari penyajian materi, guru melakukan evaluasi untuk mengukur kemampuan siswa terhadap materi yang telah dikomunikasikan.


BAB I
Pendahuluan
Peningkatan jumlah penduduk mambawa dampak yang sangat luas terhadap segala kebutuhan hidupnya. Untuk memenuhi kebutuhan tadi, manusia mengumpulkan berbagai cara dan alat yang kita kenal dengan “teknologi”, yang dewasa ini telah berkembang dengan pesat. Perkembangan ini menandakan adanya peningkatan SDM.
Perkembangan peningkatan kemajuan teknologi untuk melayani kebutuhan hidup merupakan salah satu ciri peningkatan SDM. Pengetahuan-ilmu-teknologi merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, sehingga sering kita sebut IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi).
Kemajuan IPTEK telah membawa peningkatan pemanfaatan SDA dan lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Misalnya kemajuan IPTEK elektronik-elektronik yang menghasilkan “Multimedia” yang meliputi radio, telepon, TV, faximile, dan internet. Kemajuan dalam bidang ini telah memperlancar dan mempercepat arus berita serta informasi secara global, sehingga batasan antar Negara seolah-olah tidak terlihat.



BAB. I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Di era globalisasi sangat berpengaruh terhadap perkembangan kehidupan manusia. Globalisasi ini menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia baik dalam kegiatan ekonomi, sosial, politik, budaya dll dan menjadikan manusia menuju perlombaan yang sengit untuk saling mengungguli dan menciptakan suatu kemajuan. Untuk itu manusia ditantang untuk menghadapi segala masalah dan tantangan dunia.
Oleh karena itu yang menjadi kunci adalah kualitas SDM. Menurut Mulyasa, jika Indonesia ingin berkiprah dal percaturan global, langkah-langkah yang harus ditempuh adalah menata SDM, baik dari segi intelektualitas, emosional, spiritualitas, kreativitas, moral, maupun pertanggungjawabannya. Dan untuk inilah peran pendidik sangat dibutuhkan.
Seorang pendidik dalam perannya di era globalisasi ini tidak hanya terfokus dalam peningkatan kualitas SDM yang siap pakai, melainkan juga harus mempersiapkan SDM yang adaptif dan berpandangan masa depan. Untuk itu diperlukan seorang pendidik sebagai pendidik yang professional.
Seorang pendidik yang professional harus menguasai beberapa kompetensi dasar yakni kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi personal, dan kompetensi sosial. Dan dalam makalah ini akan dipaparkan tentang kompetensi professional guru yang harus dimiliki oleh seorang guru professional


TEKNOLOGI PENDIDIKAN
A.   Pengertian Teknologi Pendidikan
Menurut AECT, Teknologi pendidikan diartikan sebagai bidang garapan yang terlibat dalam penyiapan fasilitas belajar (manusia) melalui penelusuran, pengembangan, organisasi, dan pemanfaatan sistematis seluruh sumber-sumber belajar dan melalui pengelolaan seluruh proses ini.
Teknologi pendidikan bermakna suatu proses yang terintegrasi, yang melibatkan manusia, prosedur, gagasan, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah-masalah pendidikan dan cara-cara pemecahannya, mencobakan model-model pemecahan, mengadakan penilaian, dan mengelolanya. Dalam pemecahan masalah-masalah kependidikan, semua sumber belajar yang dirancang, dipilih dan digunakan untuk menciptakan kegiatan belajar. Sumber-sumber tersebut dinyatakan sebagai pesan, orang, material, peralatan, metode, dan lingkungan atau situasi.
B.   Teknologi Pendidikan Sebagai Sebuah Konsep
Konsep pendidikan sendiri mempunyai arti yang luas, ia merupakan keseluruhan proses seseorang mengembangkan kemampuan, sikap, dan berbagai bentuk prilaku lain yang mempunyai dapat terbentuk prilaku tertentu dalam kondisi tertentu, maka proses itu disebut pembelajaran/instruksional. Berdasarkan perkembangan paradigma (kerangka berpikir) para ahli dapat dirumuskan gagasan dasar atau falsafah teknologi pendidikan yaitu agar setiap pribadi dapat berkembang secara maksimal dengan jalan memanfaatkan segala macam nilai positif terhadap lingkungan tempat hidupnya. Proses itu sengaja dikelola agar sumber belajar yang ada maupun yang perlu dikembangkan sedemikian rupa sehingga tercapai efisiensi serta keselarasan dengan perkembangan masyarakat dan lingkungannnya.