twitter


BAB I 
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Sistem inovasi pada dasarnya merupakan suatu kesatuan dari sehimpunan aktor,kelembagaan, jaringan, hubungan, interaksi dan proses produktif yang mempengaruhi arah perkembangan dan kecepatan inovasi dan difusinya serta proses pembelajaran.
Sistem pendidikan merupakan elemen atau pilar sangat penting bagi berkembangnya system inovasi. Sebaliknya,sistem inovasi yang kuat akan mendukung perkembangan pendidikan yang baik pula.
Untuk mencapainya,hal yang perlu di lakukan adalah memperbaiki peraturan perundang undangan, fasilitas (infrastruktur) dan sarana pendidikan (formal, non formal, informal) serta tanaga pendidik yang mendukung ketersediaan,aksebilitas dan afordabilitas bagi seluruh masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas di seluruh wilayah indonesia.Tetapi jangan sampai pengembangan sekolah atau lembaga lembaga pendidikan unggulan menjebak kita hanya menyediakan lembaga pendidikan untuk anak/orang pandai dan memiliki kemampuan ekonomi.
Untuk itu,sebuah proses inovasi pembelajaran yang baik paling tidak memiliki 3 aspek yaitu aspek psikomotorik, aspek kognitif, aspek afektif.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.    Apa pengertian inovasi?
2.    Maksud dari urgensi inovasi?
3.    Bagaimanakah urgensi inovasi dalam bidang pendidikan?
4.    Bagaimanakah Proses berfikir kreatif dalam inovasi?
5.    Inovasi pendidikan dan model pembelajaran di indonesia ?
6.    Macam macam aspek inovatif dalam kurikulum 2006(KTSP) ?

C.     TUJUAN
1.    Mengetahui pengertian innováis.
2.    Mengetahui maksud dari urgensi inovasi
3.    Mengetahui bagaimana urgensi inovasi dalam bidang pendidikan.
4.    Mengetahuui bagimana proses berfikir kreatif dalam inovasi.
5.    Mengetahui inovasi pendidikan dan model pembelajaran di indonesia.
6.    Mengetahui macam macam aspek inovatif dalam kurikulum 2006(KTSP).

D.    MANFAAT
            Setelah mengetahui rumusan masalah dan pemecahan masalahnya, maka mempermudah saya dalam menyelesaikan makalah ini. 

BAB II 
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Inovasi
Kata inovasi seringkali dikaitkan dengan perubahan, tetapi tidak setiap perubahan dapat dikategorikan sebagai inovasi. Menurut Rogers (1983: 11) inovasi adalah suatu gagasan, praktek, atau objek benda yang dipandang baru oleh seseorang atau kelompok adopter lain.
Menurut Ibrahim (1989) mengatakan bahwa inovasi adalah penemuan yang dapat berupa sesuatu ide, barang, kejadian, metode yang diamati sebagai sesuatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat).
Berdasarkan pendapat diatas, inovasi berkaitan erat dengan hal yang baru oleh seseorang atau kelompok adopter.
Inovasi (pembaharuan) berdasarkan cara penemuannya dapat dibedakan pada istilah invention dan discovery. Invention adalah penemuan sesuatu yang benar-benar baru artinya hasil karya manusia. Discovery adalah penemuan sesuatu (benda yang sebenarnya telah ada sebelumnya. Dengan demikian, inovasi dapat diartikan usaha menemukan benda yang baru dengan jalan
B.     Urgensi Inovasi
Inovasi perlu dilakukan karena menyangkut nilai dan peningkatan yang lebih baik. Secara sempit, mendapat keuntungan dari inovasi. Dengan kata lain inovasi yang dilakukan orang lain merupakan kerugian bagi konsumen dan lingkungannya meskipun mendapat keuntungan dari manfaat mengkonsumsi inovasi. Sebagai contoh hak paten dari temuan yang dilakukan para ahli.
Sehubungan dengan urgensi inovasi, Rogers (1983: 12-16) mengemukakan karakteristik yang dikandung oleh suatu inovasi mencakup:
  1. Adanya keunggulan relatif
Sejauh mana inovasi dianggap lebih baik dan gagasan sebelumnya. Biasanya tolok ukurnya adalah faktor ekonomi, sosial, kepuasan, dan kenyamanan.
  1. Kesesuaian
Merujuk kepada bagaimana suatu inovasi dipandang konsisten dengan nilai-nilai yang ada, pengalaman yang lalu, dan sejauh mana dapat mengatasi kebutuhan calon penerima (adopter).
  1. Kompleksitas
Hal kompleksitas mi berkenaan dengan tingkat kesulitan suatu inovasi untuk dilaksanakan dibandingkan dengan kegunaannya. Apakah inovasi tersebut gagasannya sederhana atau sulit untuk dipahami, dan apakah tingkat kesulitan tersebut seimbang dengan kegunaannya.
  1. Trialabilitas
Aspek mi berkaitan dengan bagaimana tingkat ketercobaannya. Apakah inovasi tersebut mudah untuk diujicobakan.
  1. Observabihtas
Merujuk kepada bagaimana manfaat (hash) inovasi dapat dilihat oleli masyarakat terutama masyarakat sasaran.
Batasan dan penjelasan diatas, dapat disimpulkan munculnya inovasi karena ada permasalahan dan upaya mengatasi permasalahan tersebut.
C.    Urgensi Inovasi Dalam Bidang Pendidikan
Guru adalah orang yang langsung berhubungan dengan murid. Pembentuk karakter pebelajar secara utuh. Konsekuensi lanjutan adalah perlunya pembinaan berkelanjutan yang intensif bagi pihak guru sebagai pengembang kurikulum di tingkat sekolah. Profesionalisasi menjadi suatu kebutuhan, dan guru hams terus meningkatkan dirinya untuk mempercepat pembangunan bangsa. Di tangan gurulah terletak maju atau mundurnya pendidikan kita.
Guru perlu mendesain pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Inovasi tersebut berupa pendekatan, model, metode, strategi, teknik dan taktik serta upaya lain yang mendukung tercapainya hasil pembelajaran.
Guru yang tidak melakukan inovasi akan menimbul kegagalan. Gejala kegagalan pembelajaran menimbulkan kebosanan.
Orientasi inovasi pembelajaran menuntut guru kreatif dan selalu berpikir untuk melakukan inovasi berdasarkan situasi dan kondisi saat pembelajaran berlangsung.
D.    Proses Berpikir Kreatif dalam Inovasi
Dalam melakukan inovasi seorang guru harus mampu berpikir kreatif dalam berbagai aspek yang berhubungan dengan profesi keguruannya. Guru profesional dapat dengan mudah diperoleh tanpa ada suatu proses berpikir kreatif. Diperlukan daya eksplorasi taktis akademis untuk melakukan sekedar eksploitasi konsep dalam berpikir kreatif. Peserta didik perlu diperlakukan secara utuh dan holistik sebagai manusia, kelas perlu didesain sebagai “masyarakat mini” yang mampu memberikan gambaran bagaimana sang murid berinteraksi dengan sesamanya untuk berpikir, berbicara, berpendapat, mengambil inisiatif dan keputusan.
Pembelajaran yang inovatif, atmosfer kelas tidak kaku dan monoton. Para siswa didik lebih banyak diajak untuk berdiskusi, berinteraksi, dan berdialog sehingga mereka mampu mengkonstruksi konsep dan kaidah-kaidah keilmuan sendiri Peran guru sebagai agen perubahan diharapkan dapat membawa perubahan yang dengan baik.
E.     Inovasi pendidikan dan model pembelajaran di Indonesia
  1. Top Down Inovation
Inovasi model Top Down mi sengaja diciptakan oleh atasan (pemerintah) untuk kepentingan bawahannya. Dan bawahan tidak punya otoritas untuk menolak pelaksanaannya. Contoh adalah yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasinal selama ml. Seperti penerapan kurikulum, kebijakan desentralisasi pendidilcan dan lain-lain.
  1. Bottom up Inovation
Yaitu model ionovasi yang bersumber dan hasil ciptaan dan bawah dan dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan penyelenggaraan dan mum pendidikan. Biasanya dilakukan oleh para guru.
  1. Desentrailsasi dan Demokratisasi pendidikan.
UU No. 2 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, privatisasi perguruan tinggi negen-dengan status baru yaitu Badan Hukum Milik Negara (BHMN) melalui PP No. 60 tahun 2000, sampal UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerlntah Pusat dan Pemerintahan Daerah yang mengatur konsep, sistem dan pola pendidikan, pembiayaan pendidikan, juga kewenangan di sektor pendidikan yang digariskan bagi pusat maupun daerah.
F.     Aspek-Aspek Inovatif Kurikulum 2006 (KTSP)
KTSP yang mulai diberlakukan secara nasional pada tahun 2006 jelas berbeda dengan kurikulum sebelumnya. Perbedaan yang paling mendasar adalah bahwa KTSP merupakan produk dan penjabaran Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 yang bernaftskan Undang-undang Otonomi Daerah.
Dua hal penting yang membedakan KTSP dengan kurikulum sebelumnya (sebagai dampak dan UU Otonomi Daerah) adalah (a) diberlakukannya kurikulum yang berdiversifikasi, dan (b) adanya standardisasi pendidikan. Sebagaimana diketahui bahwa Indonesia adalah negara yang heterogen, balk dilihat dan aspek geografisnya maupun latar belakang sosial budayanya. Heterogenitas ml membawa dampak bahwa terdapat perbedaan yang cukup bermakna antara daerah dan pusat. Dengan diberlakukannya Undang-undang Otonomi Daerah maka setiap daerah mempunyal wewenang untuk mengatur urusan dalam negerinya.
Dengan demikian, pada aspek pendidikan terjadi hal yang sama. Jika pada masa berlakunya sentralisasi saja sudah menyebabkan adanya perbedaan yang bermakna antara pusat dengan daerah, maka dapat dibayangkan apa yang akan terjadi dengan sistem pendidikan yang desentralisasi.
Untuk mengatasi perbedaan tersebut, maka kurikulum dikembangkan dengan mengacu kepada standar nasional, artinya meskipun tiap daerah bahkan tiap sekolah diberi kebebasan untuk mengembangkan kurikulumnya sesuai dengan kemampuan masingmasing, tetapi tetap harus mengacu pada standar minimal yang siftnya nasional. Dengan demikian diharapkan bahwa kurikulum yang dikembangkan (KTSP) dapat mengadopsi kebutuhan daerah tetapi tidak melupakan aspek mutu/kualitas pendidikan secara nasional.
Aspek-aspek inovatif yang terkandung dalam KTSP di antaranya diterapkannya pendidikan kecakapan hidup; dikembangkannya keunggulan lokal sesuai karakteristik, kebutuhan, dan tuntutan setempat; kurikulum berbasis sekolah, dalam pengertian meskipun kerangka dasar dan struktur kurikulum dikembangkan secara sentralistik. tetapi pengembangan perencanaan pembelajaran (silabus & RPP) dan kegiatan belajar mengajar dikembangkan secara desentralistik; dan disertakannya peran serta masyarakat.
BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
KTSP memberikan peluang munculnya diversifikasi sekolah, sebab kurikulum yang dikembangkan dalam KTSP sebagaimana yang telah diungkapkan di atas, hanya berisikan standar kompetensi/kompetensi dasar yang merupakan standar nasional; sedangkan pengembangan selanjutnya sangat ditentukan oleh kebutuhan/karakteristik sekolah atau masyarakat yang berada di sekitar sekolah.
Diversifikasi ini memungkinkan dikembangkannya sistem persekolahan yang berdaya saing tinggi, sebab pihak sekolah diberi kewenangan penuh untuk mengembangkan kurikulumnya sebaik dan semaju mungkin tetapi juga melihat pada kebutuhan dan kemampuan pihak penyelenggara pendidikan (sekolah). Dengan adanya kemungkinan diverisifikasi ini maka penyelenggara pendidikan tidak lagi harus seragam, sehingga diharapkan percepatan pembangunan bangsa dapat dicapai.
B.     SARAN
Partisipasi masyarakat yakni peran komite sekolah memberi masukan dan saran tentang keunggulan lokal, menjadi poin berikutnya dalam peluang yang terkandung di KTSP. Keterlibatan pihak masyarakat, yang selama mi dipandang hanya sebagai user pasif, memunculkan tantangan yang Iebih bermakna, sebab masuknya peran/partisipasi masyarakat akan melibatkan pemikiran-pemikiran baru tentang perlunya peningkatan kualitas yang berasal dan pihak pengguna. Masyarakat dapat mengikutsertakan dirinya untuk pengembangan dan kemajuan sekolah dengan mengedepankan keunggulankeunggulan yang dimiliki oleh masyarakat sekitar.
Peluang yang diberikan melalui KTSP adalah bahwa kunkulum berbasis sekolah. Hal ini mengindikasi selain kunikulum akan dikembangkan sesuai kebutuhan dan kemampuan pihak sekolah, juga tidak kalah pentingnya adalah bahwa kurikulum harus dikembangkan oleh guru. Dalam hal mi guru bukan hanya sebagai pelaksana kurikulum, melainkan juga sebagai pengembang kurikulum di kelasnya. Konsekuensinya, guru dituntut untuk siap sebagai pengembang kurikulum, sehingga tidak lagi terdengar bahwa pengembangan perencanaan pembelajaran hanyalah merupakan pekerjaan administratif belaka”.

DAFTAR PUSTAKA
Sa’ud, Udin Saefudin. 2008.Inovasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.
Hanafi, Abdillah. 1987. Memasyarakatkan Ide-Ide Baru. Surabaya: Penerbit Usaha Nasional
Rogers, E.M. dan Shoemaker, F.F., 1971, Communication of Innovations, London: The Free Press.
Rogers, Everett M, 1995, Diffusions of Innovations, Forth Edition. New York: Tree Press.
Brown, Lawrence A., Innovation Diffusion: A New Perpevtive. New York: Methuen Co
Galbreath, J. 1999. Preparing the 21st Century Worker: The Link Between Computer-Based Technology and Future Skill Sets. Educational Technology Nopember-Desember 1999.
Maister, DH. 1997. True Professionalism. New York: The Free Press.

Mulyasa, E. (2008). Menjadi Guru Profesinal Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya.


0 komentar:

Posting Komentar